

Perjalanan lintas samudra bersama kapal PELNI memang punya daya tarik tersendiri. Dari sunrise di tengah laut sampai suasana santai di dek kapal, semuanya terasa seperti âliburan versi slow travelâ.
Namun, ada satu tantangan yang sering diremehkan: mabuk laut yang bersifat kumulatif. Berbeda dengan perjalanan kapal kecil, mabuk di kapal besar cenderung tidak langsung terasa. Gejalanya datang perlahan: kepala berat, mual ringan, lalu berlanjut menjadi lemas jika tidak ditangani.
Kondisi ini dikenal sebagai motion sickness, yang terjadi karena otak menerima sinyal berbeda dari mata dan telinga bagian dalam. Tenang, dalam artikel ini kami akan membahas panduan taktis âlong-haul survivalâ agar kamu tetap fit selama perjalanan berhari-hari dan bisa menikmati fasilitas kapal sampai tiba di pelabuhan tujuan. Simak ulasannya!

Salah satu kesalahan paling umum adalah memilih posisi tanpa mempertimbangkan stabilitas kapal. Padahal, ini adalah faktor paling berpengaruh terhadap intensitas mual. Tidak semua area kapal memiliki tingkat guncangan yang sama. Posisi yang tepat dapat membantu tubuhmu untuk menyesuaikan gerakan kapal dengan lebih cepat.
Jika memungkinkan, pilih tempat di dek tengah (biasanya dek 3 atau 4). Alasannya sederhana: pada banyak kapal, bagian tengah kapal adalah titik paling stabil dan dekat dengan pusat gravitasi. Sehingga guncangan akan terasa lebih halus dibanding bagian ujung depan atau belakang
Semakin ke atas (dek atas), kamu akan merasakan ayunan yang lebih besar. Hal ini sering menjadi pemicu mual berkepanjangan. Penelitian dari National Institute of Health menunjukkan bahwa stabilitas visual dan gerakan tubuh yang sinkron membantu mengurangi gejala mabuk perjalanan.
Intinya, kalau kamu memesan tiket kelas ekonomi atau kabin, usahakan memilih posisi dekat dengan tengah kapal dan cari yang tidak terlalu tinggi.
Baca juga: Jadwal Lengkap Kapal Pelni KM Sirimau Maret 2026
Selain guncangan, bau menjadi pemicu utama mabuk laut. Maka ada beberapa area yang sebaiknya dihindari karena memicu rasa tidak nyaman. Misalnya area dekat ruang mesin (bau solar cukup tajam) dan sekitar kantin saat jam makan (aroma makanan bercampur)
Bau solar yang kuat dapat memperparah rasa mual bagi sebagian penumpang. Hal yang sama berlaku pada area kantin saat jam makan. Aroma makanan yang tajam sering memicu refleks mual, terutama ketika tubuh sudah sensitif terhadap guncangan.
Maka kombinasi keduanya bisa mempercepat munculnya mual, bahkan pada orang yang biasanya kuat. Jika mulai pusing, segera pindah ke area dengan sirkulasi udara lebih baik.
Banyak orang menghindari makan ketika mulai merasa mual. Pendekatan ini justru sering memperburuk kondisi tubuh.
Perut kosong memicu peningkatan asam lambung. Kondisi tersebut dapat memperparah rasa mual saat kapal bergoyang.
Meskipun sedikit mual, tetap usahakan makan sesuai jadwal dari kapal. Mengapa penting?
keadaan perut kosong akan meningkatkan asam lambung
memperparah rasa mual dan pusing
menurunkan stamina selama perjalanan panjang
Tetap konsumsi makanan yang disediakan kapal walaupun dalam porsi kecil. Pilih makanan seperti sup, soto, atau makanan berkuah lainnya yang bersifat menghangatkan dan mengenyangkan meskipun hanya sementara. Tidak perlu mengonsumsi langsung banyak, ya!
Biskuit, roti, atau buah dengan rasa asam sering membantu meredakan mual. Camilan ini menjaga kadar gula darah tetap stabil tanpa membebani lambung. Rasanya ringan, tidak terlalu tajam, dan membantu menetralkan lambung.
Sebaliknya, bagi beberapa orang, makanan yang memiliki rasa manis berlebihan justru bisa membuat mual semakin terasa âenegâ. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), makanan ringan dengan rasa netral membantu mengurangi stimulasi lambung saat perjalanan laut.
Kopi memang terlihat seperti solusi untuk melawan kantuk, tapi efeknya bisa kontraproduktif bagi tubuh. Kafein dapat:
meningkatkan detak jantung
memicu kecemasan ringan
pada kondisi mabuk laut justru memperparah sensasi pusing
Jika ingin minum kopi, batasi maksimal konsumsinya dan pilih air putih atau minuman hangat yang lebih ramah untuk lambung.
Baca juga: Sejarah Monumen Kapal Selam Surabaya dan Harga Tiketnya

Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme gerakan kapal. Di perjalanan panjang, kunci utamanya bukan menghindari mabuk, tetapi beradaptasi dengan ritme kapal. Dengan begitu, membantu mengurangi tekanan pada sistem keseimbangan tubuh.
Setiap 2â3 jam, usahakan keluar ke dek terbuka. Ada beberapa manfaat yang bisa kamu dapat, seperti mendapatkan oksigen segar, membantu otak âmenyinkronkanâ gerakan tubuh, dan melihat garis horizon yang stabil.
Melihat garis laut yang datar membantu otak mengurangi konflik sensorik. Sehingga otak menjadi selaras antara informasi visual dengan gerakan tubuh. Ini teknik sederhana tapi sangat efektif.
Cara tidur juga bisa memengaruhi tingkat mabuk. Maka dianjurkan tidur dengan posisi kepala menghadap searah laju kapal atau tubuh sejajar dengan arah gerakan. Dengan begitu, membantu tubuh âmengikutiâ ritme kapal secara lebih alami, bukan melawannya.
Beberapa penumpang juga merasa lebih nyaman tidur dengan bantal tambahan yang menjaga posisi kepala tetap stabil. Justru yang perlu dihindari adalah posisi menyamping yang berlawanan arah karena bisa memperparah sensasi bergoyang.
Mempersiapkan beberapa barang sederhana dapat membantu menghadapi perjalanan laut yang panjang. Agar tidak panik saat gejala muncul, siapkan perlengkapan ini sejak awal ya:
| Item | Fungsi Utama | Tips Penggunaan |
|---|---|---|
| Obat anti mabuk (misal Antimo) | Mengurangi mual & pusing | Minum sebelum gejala muncul |
| Minyak kayu putih | Menghangatkan tubuh & meredakan mual | Oles di leher & perut |
| Permen jahe | Menenangkan lambung | Konsumsi saat mulai tidak nyaman |
| Masker | Mengurangi bau menyengat | Gunakan di area ramai |
| Air mineral | Menjaga hidrasi | Minum sedikit tapi sering |
| Kantong plastik | Antisipasi muntah | Simpan di tas kecil |
*Catatan: jangan menunggu mual parah, lebih baik preventif daripada reaktif.
Setelah perjalanan panjang, sebagian orang mengalami sensasi masih bergoyang meskipun sudah di darat. Kondisi ini dikenal sebagai Mal de Debarquement Syndrome.
Fenomena tersebut terjadi karena otak masih menyesuaikan diri setelah berhari-hari menerima pola gerakan laut. Biasanya akan hilang dalam 1-3 hari. Gejalanya berupa: tubuh terasa masih ikut bergerak dan sedikit pusing saat diam.
Cara paling efektif untuk mengatasinya adalah banyak berjalan di permukaan tanah datar, menghindari rebahan yang terlalu lama, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi ulang. Aktivitas ringan membantu sistem keseimbangan tubuh kembali normal dalam waktu singkat.
Baca juga: Itinerary Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Panduan Sailing 2026
Mabuk laut di perjalanan panjang bukan sekadar soal kuat atau tidak, tetapi soal strategi adaptasi. Mulai dari memilih posisi di kapal, menjaga pola makan, hingga rutin mencari udara segar, semua berperan penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil. Yang paling penting:
jangan panik saat gejala muncul
tangani sejak awal
jaga ritme tubuh tetap konsisten
Dengan pendekatan yang tepat, perjalanan bersama kapal Pelni bisa tetap terasa nyaman dan bahkan menyenangkan. Jika Anda ingin menemukan lebih banyak panduan perjalanan praktis, Sekali.id menghadirkan berbagai informasi destinasi, kuliner, dan tips perjalanan yang mudah dipahami.
Selamat menikmati perjalanan laut dengan tubuh tetap fit hingga tiba di tujuan!