

Pernah merasa gemas karena pemandangan terumbu karang yang aslinya berwarna-warni malah jadi terlihat biru pucat dan keruh di hasil foto? Masalah ini sering banget dialami para traveler, padahal sudah pakai kamera mahal sekalipun. Hasil yang blur atau kehilangan warna merah biasanya menjadi “musuh utama” saat kita memotret di bawah permukaan laut.
Foto bawah air sering terlihat biru pucat, keruh, atau blur karena cahaya di dalam air menyerap warna dan mengurangi visibilitas, sehingga membutuhkan pengaturan kamera yang tepat.
Hal ini terjadi karena air menyerap warna merah terlebih dahulu, sehingga foto cenderung didominasi oleh warna biru atau hijau.
Rahasia mendapatkan foto underwater yang estetik di tahun 2026 sebenarnya bukan lagi soal seberapa mahal alat yang kamu punya. Kuncinya ada pada ketepatan pengaturan (setting), pemahaman tentang bagaimana cahaya bekerja di dalam air, dan sedikit teknik praktis yang bisa diterapkan siapa saja.
Mau pakai smartphone atau action cam, kamu tetap bisa menghasilkan foto yang jernih dan berwarna. Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba!

Sebelum terjun, penting untuk memahami karakter setiap perangkat agar bisa memilih yang paling sesuai. Jenis kamera bawah air banyak ragamnya dan masing-masing memiliki keunggulan berbeda sesuai kebutuhan pengguna. Berikut adalah 5 kategori kamera yang paling banyak digunakan saat ini:
Smartphone: paling praktis dan mudah digunakan, terutama untuk pemula. Dengan tambahan housing tahan air, smartphone sudah cukup untuk kebutuhan foto santai di permukaan atau snorkeling ringan.
Action Cam (Contoh: GoPro Hero 14): unggul dalam stabilisasi gambar dan desain tahan banting, sehingga tetap mampu merekam video dengan mulus meskipun digunakan dalam kondisi bergerak atau arus air yang cukup kuat.
Kamera Tough (Contoh: OM System TG-7): dirancang khusus tahan air tanpa housing tambahan. Keunggulannya ada pada kemampuan makro yang sangat baik, cocok untuk memotret objek kecil seperti biota laut.
Compact Premium: terdapat kontrol manual yang lebih lengkap dibandingkan dengan smartphone, dengan ukuran tetap ringkas. Ideal untuk pengguna yang ingin kualitas foto lebih tinggi tanpa membawa perangkat besar.
Mirrorless: pilihan terbaik untuk kualitas gambar profesional berkat sensor besar dan fleksibilitas lensa. Namun, membutuhkan housing khusus yang cukup mahal dan berukuran lebih besar, sehingga lebih cocok untuk fotografer serius.
| Jenis Kamera | Tingkat Kesulitan | Kualitas Hasil | Rekomendasi Penggunaan |
| Smartphone | Mudah | Cukup | Snorkeling |
| Action Cam | Mudah | Bagus | Snorkeling & Diving |
| Kamera Tough | Sedang | Sangat Bagus | Diving (Makro) |
| Compact Premium | Sulit | Profesional | Diving |
| Mirrorless | Sangat Sulit | Maksimal | Profesional/Diving |
Biar pengalaman liburanmu makin berkesan, kamu juga bisa menyempatkan diri menjelajahi beberapa hidden gem Bali yang masih tersembunyi di wilayah barat dan utara.

Memaksimalkan kamera HP bukan berarti harus beli yang paling baru. Kuncinya adalah perlindungan dan format file yang tepat.
Gunakan Housing Profesional: Jangan pernah mengandalkan waterproof pouch plastik murahan jika kamu tidak ingin HP terendam air laut. Gunakan housing tangguh seperti SeaLife SportDiver yang didesain khusus agar tombol HP bisa diakses sempurna di dalam air.
Aktifkan Mode RAW: Jika kamu menggunakan iPhone 17 Pro atau Samsung S26 Ultra, selalu setelan kamera ke format RAW. Format ini sangat penting untuk fotografi bawah air karena mampu menyimpan lebih banyak informasi warna, terutama untuk mengembalikan warna merah yang cepat hilang saat berada di dalam air saat proses editing nanti.

Bagi pengguna GoPro atau Insta360, merekam video seringkali lebih efektif daripada memotret satu per satu.
Kunci White Balance: Jangan gunakan Auto White Balance (AWB). Atur secara manual ke angka yang lebih rendah (sekitar 5000K-6000K) atau gunakan preset “Underwater”. Semakin dalam kamu menyelam, warna merah akan terserap lebih cepat oleh air. Dengan mengunci white balance secara manual, kamu bisa menjaga warna tetap terlihat lebih natural tanpa terlalu bergantung pada editing.
Teknik Frame Grab: Bagi pemula, memotret sambil berenang sangat sulit. Rekamlah video dengan resolusi 5K, lalu ambil screenshot atau frame grab dari video tersebut. Hasilnya seringkali lebih tajam dan momennya lebih pas.

Untuk kamu yang ingin menangkap detail biota laut kecil seperti Nudibranch atau ikan hias mungil, kamera kelas Tough adalah pilihan terbaik.
Mode Mikroskop: Mode Mikroskop pada kamera seperti pada seri OM System TG-7 memungkinkan fokus pada jarak yang sangat dekat dengan depth of field yang tetap terjaga, sehingga detail biota kecil seperti nudibranch bisa terlihat tajam tanpa membutuhkan lensa tambahan.

Memahami perilaku cahaya adalah dasar dari setiap foto yang indah, terutama saat kamu berada di bawah permukaan air.
Golden Hour di Bawah Air: Berbeda dengan di darat, waktu terbaik memotret di bawah air adalah saat matahari tepat di atas kepala (pukul 10.00 – 14.00). Pada rentang waktu ini, cahaya matahari masuk lebih tegak lurus ke permukaan air sehingga minim akan pembiasan dan kehilangan warna, terutama pada spektrum merah yang cepat hilang di kedalaman.
The 1-Meter Rule: Selalu jaga jarak maksimal 1 meter dari subjek. Semakin dekat kamu dengan objek, semakin sedikit partikel air yang menghalangi cahaya, yang artinya foto kamu akan jauh lebih tajam dan jernih. Sebelum mencoba teknik ini, pastikan kamu sudah memahami teknik dasar diving agar posisi tubuh tetap stabil saat mendekati objek

Air menyerap spektrum warna merah lebih cepat dibandingkan dengan warna lain, sehingga semakin dalam kamu menyelam, foto akan terlihat semakin biru. Filter merah atau magenta adalah penyelamat agar foto tidak terlihat “terlalu biru”.
Jika kamu memotret di kedalaman 5-15 meter, gunakan filter fisik yang dipasang di depan lensa. Namun, jika kamu memotret di perairan dangkal (snorkeling), filter digital di aplikasi sudah cukup.
Jangan langsung hapus foto yang terlihat pucat! Kamu bisa mengembalikan warna aslinya dengan aplikasi berikut:
Lightroom Mobile: Fokus pada fitur Color Mixer. Naikkan saturasi pada warna Merah dan Oranye. Kalau masih pucat, geser Temperature ke arah kuning sampai warna terumbu karang terlihat alami lagi.
Dive+: Ini aplikasi “ajaib” buat pemula. Cukup gunakan fitur one-tap color correction, maka aplikasi akan otomatis mengoreksi warna yang hilang karena pengaruh air. Sangat praktis kalau kamu nggak mau pusing dengan pengaturan manual!

Merawat alat setelah menyelam adalah kunci agar investasi kameramu tidak sia-sia akibat korosi air laut. Setelah menyelam, kamera harus dibilas dengan air tawar selama 15–30 menit untuk mencegah korosi akibat garam laut.
Bilas dengan Air Tawar: Selalu rendam kamera di dalam air tawar bersih selama 15-30 menit setelah menyelam. Tekan semua tombol kamera agar garam yang terjebak di sela-sela tombol larut. Jangan pernah membilas dengan air bertekanan tinggi (seperti shower), karena justru bisa mendorong air asin masuk ke dalam seal karet.
Memahami peralatan dan teknik dasar adalah awal yang baik untuk menjadi fotografer underwater yang andal. Selain alat, pemilihan lokasi juga sangat menentukan kualitas konten, misalnya dengan memilih spot diving terbaik di Bali agar hasil foto lebih jernih dan detail.
Kalau kamu ingin mengeksplorasi lebih banyak insight dan panduan perjalanan lainnya, kamu bisa menemukannya di Sekali.id.